Kampungkosong.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.

17/03/12

PERANG PAREGREG ( TIDAK MERUNTUHKAN BLAMBANGAN)


Perang Tanding antara Baik dan Buruk ( Karya Ivan Hariyanto ,pelukis dari Banyuwangi)
Di masyarakat Banyuwangi , berkembang sebuah seni pertunjukan yang disebut Damarwulan. Seni pertunjukan ini menggambarkan tentang kekalahan /terbunuhnya raja Blambangan Minakjinggo oleh Damarwulan ,seorang Senopati dari Mojopahit. Aneh bin ajaib sebuah masyarakat menikmati kekalahan rajanya, sementara sering ditemui penulis , kelompok masyarakat yang tidak senang apabila idola daerahnya terkalahkan. Apakah masyarakat Banyuwangi sudah begitu well educated , sehingga menganggap siapapun yang melakukan kejahatan harus dilenyapkan,tidak peduli apakah itu raja daerah itu atau sebuah rekayasa yang sistimatis ,untuk memperlemah keberadaan masyarakat Blambangan?
Mengingat cerita yang terkandung dalam seni pertunjukan itu menggambarkan tentang perilaku prabu Menakjinggo, yang angkuh , culas, dan tak tahu diri karena ingin mempersunting /memperistri ratu Mojopahit Kenconowungu, padahal tidak ada kepantasan secuilpun yang dimiliki prabu Menakjinggo.Dia berasal dari suatu kerajaan kecil di ujung timur p.Jawa, rupanya begitu jelek, suaranya tidak menarik ( penggambaran Menakjinggo yang begitu jelek ini juga pernah disiarkan oleh Ketoprak Mataram melalui siaran RRI Yogyakarta sekitar tahun 1960an). Memang cerita Damarwulan dan Prabu Menakjinggo ini ditulis dalam buku Serat Kanda oleh sastrawan dari keraton Surakarta. Apakah penulis memiliki maksud tertentu dengan menggambarkan Menakjinggo sedemikian buruknya?
Professor Slamet Mulyana menulis bahwa penulis Serat Kanda hanya mengetahui kisahnya saja, tetapi tidak mengetahui fakta sejarahnya. Menurut beliau kisah Damarwulan dan Menakjinggo mungkin mendapat inspirasi dari Perang Paregreg yang terjadi setelah prabu Hayamwuruk ,sebuah perang yang berdampak besar terhadap keruntuhan Majapahit.
Pada masa Orde Baru (70an) rupanya mulai timbul kesadaran untuk membangkitkan semangat orang Banyuwangi , yang terimbas habis oleh peristiwa G.30.S.( Dan lagu Banyuwangi Genjer Genjer , yang merupakan lagu berbahasa osing pertama direkam dan dinyanyikan oleh Bing Slamaet dilarang beredar, karena diduga ada hubungannya dengan peristiwa tersebut)
Semangat itu tercetus juga ketika Pemerintah Daerah Banyuwangi, mengirimkan seni pertunjukan Damarwulan dan pentas di Taman Ismail Marzuki dengan membawakan pragment Damarwulan dan Menakjinggo.Dalam seni pertunjukan kali ini prabu Menakjinggo digambarkan sebagai pribadi yang baik.
Saking intellectualnya prabu Menakjinggo, dalam pragment itu dimainkan lagu klasik ‘ Fur Elise karya Bethoven , ketika prabu Menakjinggo lagi kasmaran. Bagaimana sebenarnyaPerang Paregreg dan Menakjinggo itu
Seperti ditulis diatas , cerita roman Damarwulan dan Menakjinggo menurut Sejarahwan Slamaet Mulyana terinspirasi Perang Paregreg. Slamet Mulyana juga menjelaskan bahwa sebutan Perang Paregreg ,mengisyaratkan bahwa perang itu terjadi berkali kali , bukan perang frontal yang terjadi sekaligus.Perang ini bisa disebut juga perang Bharatayudha ,karena bercerita tentang perebutan kekuasaan antar keluarga antara Majapahit Barat dan Majapahit Timur.
Mungkin sebaiknya penulis awali dari awal berdirinya Majapahit Seperti diketahui ketika R.Wijaya harus merebut kembali tahta kerajaan ayah mertuanya Sri Kertanegara ( Raja Singasari) dari raja Kediri Jayakatwang , beliau menerima bantuan Arya Wiraraja (Adipati dari Madura). Dan ketika keinginan itu terpenuhi , kemudian didirikanlah kerajaaan Majapahit,maka Arya Wiraraja mendapat bagian kerajaan sebelah timur , semula dikenal sebagai Majapahit Timur, tetapi karena daerahnya sangat subur , dan menjadi pusat logistik Majapahit ( Lumbung Majapahit) , maka disebut Blambangan( dari kata Balumbungan) dengan ibukota Lumajang, sementara pusat (Kerajaaan Majapahit Barat ) menjadi milik R.Wijaya atau BHree Wijaya ( Brawijaya). Singkat cerita kekeluargaan ini tetap terpelihara sampai Majapahit mencapai puncak kejayaan ketika diperintah Sri Paduka Hayamwuruk.Masalah timbul ketika prabu Hayamwuruk meninggal dunia.Beliau tidak menyiapkan regenerasi kekuasaan dengan baik. Para pemangku Majapahit Barat menyerahkan kekuasaan kepada  putri Dyah Kusumawardhani , putri dari Permaisuri, tetapi, ternyata Dyah Kusumawardhani  tidak memiliki kecakapan memerintah . Dan secara perlahan dan pasti ,peranan ini kemudian digantikan suaminya yaitu Wikramawardhana.Maka Wikramardhana, jadilah raja Majapahit barat.
Nah dari sini timbul persoalan……apakah menantu lebih berhak dari putra selir yang telah mendapat kewenangan di Majapahit Timur?. Karena Prabu Hayamwuruk  mempunyai putra laki dari selir, yang telah diberi wewenang memerintah Majapahit Timur (Bhree Wirabhumi).
Mungkin ketika Dyah Kusumawardhani menggantikan Prabu Hayamwuruk Bhre Wirabumi masih bisa menahan diri, tetapi ketika Wikramawardhana mengambil alih kekuasaan , rupanya Bhre Wirabhumi mulai tidak bisa menahan diri… Dari segi silsilah Bhree Wirabhumi mempunyai kedudukan yang kuat. Dia menjadi anak pungut  Bhree Daha, pewaris sah dari Ken Arok dan Ken Dedes, dan permaisuri Bhree Wirabhumi adalah Bhree Lasem putri  dari adik Hayamwuruk Sri Wardhaniduhitateswari dan Bhree Pagunan ( Singhawarhana). Disamping itu pada zaman Wikramardhana, para pendeta Hindu mulai disingkirkan dari Keraton Majapahit ( NEGARAKERTAGAMA) sedang Bhree Wirabhumi berdasar darah dan keturunan adalah penganut Hindu yang kuat maka  perangpun tak dapat dihindari
Tetapi perang ini bisa diselesaikan dengan baik( win win solution) …. Wikramawardhana  berjanji akan menyerahkan kekuasaannya pada BhreeWirabhumi , dan untuk membuktikan kesungguhan itu Wikramawardhana menyerahkan adiknya untuk diperistri Bhree Wirabhumi ( dalam cerita Damarwulan dikenal Layang Seto dan Layang Kumitir)
Tetapi ketika Wikrawardana mengachiri pemerintahan dengan menjadi Bhiksu ( Pendeta Budha), ternyata yang diangkat sebagi penggantinya adalah putrinya yaitu Dewi Suhita.
Sejarawan Slamet Mulyana menulis dengan pemerintahan dewi Suhita ini maka berakhirlah pemerintahan wangsa Sanggramawijaya.
Artinya apakah Dewi Suhita yang tidak memiliki wangsa Sanggramawijaya ( Karena garis keturunan diturunkan dari pria) lebih memiliki hak untuk memerintah Majapahit dari Bhree Wirabhumi lebih memiliki hak sebagai wangsa Sanggramawijaya.?
(Seperti kita ketahui wangsa Sanggramawijaya , adalah keturunan langsung dari perkawinan Ken Dedes dan Ken Arok , yang oleh Pramudya Ananta Toer , dideskripsikan sebagai keturunan brahmana ,oleh karena itu menjadi penganut Hindu Siva yang teguh, dan fisiknya memiliki ciri Arya ).
Maka perangpun berulang kembali.Dan kali ini adalah perang frontal. Majapahit mengirimkan pasukan yang besar yang dipimpin Senopati Bhre Narapati , menggempur Majapahit timur sampai tuntas tas, dan lebih dari itu rupanya Bhre Narapati melaksanakan tugas keblabasan, karena dia juga memenggal kepala Bhre Wirabumi.
Sejahat jahatnya Bhree Wirabumi , dia adalah wangsa Sanggramawijaya yang perlu dihormati ( dalam bahasa jawa diungkapkan, tega myang uripe, ora tega myang patine atau mikul duwur, mendem jero). Pemenggalan Kepala Bhree Wirabhumi sangat disesali pemangku Majapahit Barat.Kehormatan Bhree Wirabhumi dikembalikan , dan  kepala Bhree Wirabumi dimakamkan secara terhormat dalam candi LUNG. Dan tiga tahun kemudian Bhree Narapatipun dipancung
Sejarah membuktikan bahwa Majapahit Barat , tanpa dukungn Majapahit  Timur berantakan ( Sirna Ilang Kertaning Bhumi). Dan Majapahit Timur , berjaya sampai tiga ratus setelah Majapahit runtuh . ( Baca  Apakah Wangsa Arya leluhur orang Blambangan? . atau Perkembangan Islam di Blambangan.)
Beginilah cerita dari ilmu gathologi ( digatok- gatokan jadi).Silahkan menafsirkan siapa sebenarnya Bhree Wirabumi alias Menakjinggo itu.
MENAK JINGGO
Sopo bain arep takon aran isun Menak Jinggo
Lamat-lamat semeriwing ring kuping
Nalikane isun kelayung-layung ring gendongan
Emak-Bapak sing leren-leren ngudang
Anak isun lanang satrio bagus gagak perkuso
Dadio agul-agul sun iring pujo lan puji

Sopo bain arep takon aran isun Menak Jinggo
Isun sing perduli asal isun teko endi
Embuh lahir nong Keraton
Embuh lahir nong gelengan
Emak-Bapak karepe wis sun turuti
Sun tancep tanggul-tanggul lan umbul-umbul
Sak ubenge tanah Blambangan
Sopo bain arep takon aran isun Menak Jinggo
Pancen ono pecake tatu ring awak isun
Peninhsete tando bahkti nang rojo Mojopahit
Ngukuhaken jejege sengker Blambangan
Sirepo geni kawah ijen
Sing arep gingsir tekadisun
Mulyakaken Blambangan
Andang CY

ads

Ditulis Oleh : Kampung Kosong Hari: 22.20 Kategori:

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Powered by kampungkosong.blogspot.com